main gate ncu

Belajar Menjadi Peneliti Muda di NCU

Teman-teman, tahukah kita bahwa salah satu kekuatan utama negara-negara maju adalah research and development (R&D) atau yang lebih familiar disebut penelitian dan pengembangan? UNESCO pada 2016 menyebutkan bahwa kuantitas periset di Indonesia adalah yang paling sedikit di antara negara-negara anggota G-20. Dikutip dari kopertis12.or.id, dalam setahun Indonesia hanya mampu menghasilkan 6.260 riset. Sementara Malaysia mampu membuat 25.000 riset, Singapura 18.000 riset, dan Thailand 12.000ai??i??13.000 riset. Itulah ironi yang pertama. Kita sudah pasti tahu banyak penyebab yang melatar-belakanginya seperti: sarana yang tidak memadai, dana yang minim dan kompetensi peneliti yang rendah. Ironi yang kedua adalah banyak di antara kita hanya menyalahkan pemerintah dan kebijakannya yang tidak pro terhadap R&D. Namun banyakkah kita sadar bahwa salah satu penyebab utamanya adalah kita? Kita di sini dalam artian kompetensi kita yang rendah dalam melakukan penelitian. Nah, sebagai calon peneliti muda Indonesia, hari ini kita akan membahas hal apa saja yang kita dapatkan selama kuliah di National Central University (NCU) dalam membekali kita menjadi seorang peneliti profesional.

Seperti yang sudah saya tulis dalam artikel sebelumnya, NCU merupakan salah satu kampus dengan indeks penelitian terbaik di Taiwan. Artinya, dengan menjadi mahasiswa NCU, kita memiliki peluang untuk dididik menjadi peneliti yang mumpuni. Berikut ini beberapa hal yang kita dapatkan dalam meningkatkan kemampuan riset kita saat kuliah di NCU.

1. Sebagai calon peneliti muda, kita akan dididik secara langsung oleh pembimbing yang qualified. Hampir semua profesor di NCU adalah lulusan Amerika Serikat yang mana kemampuan mereka sudah tidak diragukan lagi. Contoh sederhana adalah pembimbing saya, Prof. Chien-Sheng (Jason) Chen adalah seorang ahli protein microarray di Taiwan, lulusan Cornell University. Prof. Chen mendidik kami menghasilkan penelitian-penelitian yang banyak digunakan dalam dunia biomedis, misalnya menggunakan protein chip untuk mengalisa suatu penyakit atau menganalisa interaksi protein. Protein chip adalah sebuah chip yang berukuran kecil yang mengandung ribuan jenis protein di dalamnya. Saya yakin, profesor lain di NCU juga tidak kalah penting dalam menghasilkan riset-riset yang baik, khususnya earth science yang memang sudah diakui dunia. Mereka semua tidak hanya kompeten, tetapi juga bersedia mendidik kita secara langsung.

2. Sebagai calon peneliti muda, riset akan menjadi thema hidup setiap hari. Riset adalah tugas utama saat kuliah di NCU. Tidak jarang kita akan menemukan mahasiswa master atau PhD yang melakukan penelitian sepanjang hari di laboratorium. Fenomena riset di NCU dapat dikatakan sudah barang biasa. Saya memiliki teman dan kakak kelas yang selalu pulang pagi untuk mengerjakan riset, mereka bukan orang Taiwan, melainkan orang Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya riset di NCU. Sudah banyak orang Indonesia memiliki cerita masing-masing tentang masa-masa sulit, bahagia, puas dan indahnya melakukan riset di NCU. Inilah saatnya kita membuat cerita kita masing-masing.

3. Sebagai calon peneliti muda, kita akan diperlengkapi dengan kalobarasi riset yang kuat. Tidak ada satupun ilmu di dunia ini yang dapat berdiri tunggal, semua ilmu memiliki integrasi yang kuat dengan ilmu lain. Di NCU, riset tidak hanya dilakukan oleh, dari dan untuk universitas saja, banyak riset di NCU dilakukan secara kaloborasi, misalnya: sebagian riset di laboratorium kami adalah hasil kerjasama dengan beberapa rumah sakit di Taiwan atau lembaga riset lain seperti Academia Sinica. Tak menutup kemungkinan untuk melakukan kerjasama dengan kampus di Amerika Serikat, seperti beberapa penelitian profesor saya adalah hasil kerjasama dengan John Hopkins University dan Cornell University. Teman-teman saya dari jurusan lain juga memiliki kaloborasi dengan kampus-kampus di Eropa. Semua kondisi ini tentunya menambah pengalaman riset kita selama kuliah di NCU.

4. Sebagai calon peneliti muda, kita akan didorong untuk publikasi ilmiah. Salah satu luaran sebuah riset adalah publikasi ilmiah (paper ilmiah). Setelah kita selesai melakukan proyek riset, biasanya kita diajar untuk menulis manuscript jurnal dan mempublikasikannya. Sebagai aturan, mahasiswa PhD wajib mempublikasikan paling tidak 2 jurnal internasional. Aturan ini tidak berlaku bagi mahasiswa master, namun mereka tetap didorong untuk publikasi ilmiah. Seorang teman saya yang sedang menempuh studi master di earth science telah diutus ke Amerika untuk mengikuti conference. Seorang mahasiswa master, senior saya di High Throughput Biosensing Lab telah mempublikasikan 4 tulisan ilmiah setelah tamat dari NCU dan saat ini ia mendapatkan beasiswa PhD di Jerman. Masih banyak cerita lain yang belum tertulis dalam tulisan singkat ini. Namun, dengan contoh sederhana ini, kita dibukakan harapan dan menyadari betapa beruntungnya kita menjadi mahasiswa NCU.

Saya yakin dengan mempergunakan kondisi ini sebaik-baiknya, kita berpotensi menjadi peneliti muda yang kompeten di kemudian hari, yang berguna bagi nusa dan bangsa. Selamat belajar di NCU.

*Samuel Herianto (email: samuelhgm@g.ncu.edu.tw)
Penulis merupakan assistant researcher di High Throughput Biosensing Lab, Department of Biomedical Sciences, National Central University.

Trackback from your site.

Samuel Herianto Ginting Munthe

Aku hanya ingin mengetahui dua hal dalam hidupku: mengenal Allah dan mengenal diri (St. Augustine of Hippo). Samuel Herianto (e-mail: samuelhgm@g.ncu.edu.tw), student of Department of Biomedical Sciences, National Central University. Researcher assistant in High Throughput Biosensing Laboratory.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.